Perjuangan hidup semasa remaja

Kisahku pada masa remaja, aku hidup di sebuah keluarga sederhana di sebuah kota kecil di jawa tengah. Semasa kecilku, hidupku seperti kebanyakan anak anak. Bermain kelereng, petak umpet, bola dan lainnya. Kesukaan bermain bola membuatku setiaphari bermain bola di lapangan dekat rumahku. Setelah pulang sekolah, teman temanku segera datang ke rumah untuk mengajak bermain bola, dengan tanpa alas kaki, kami dengan penuh keceriaan bermain sepakbola di lapangan kecil. Setiaphari diisi dengan canda tawa dan bahagia meski di rumah kurang harmonis.

Beranjak dewasa, akhirnya tiba saatnya kami harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu ada pergumulan besar dalam hidupku. Sebab disaat teman yang lain memutuskan untuk kuliah di luar kota, orangtua saya mengalami kekurangan dan merasa tidak sanggup untuk membiayai segala keperluan pendidikanku nanti. Membuat saya berusaha untuk mencari beberapa alternatif seperti beasiswa dan bahkan mencari calo kerja di jepang. Saat itu yang ada di pikiranku adalah aku benar benar gak tau gimana harus menjalani hidupku kedepannya.

Dengan berbekal formulir pembayaran dan beasiswa yang saya dapatkan, saya berkeliling ke rumah rumah sodara. Tujuan saya, supaya saya bisa dibantu untuk membiayai uang pangkal kuliah saya. Jalan Tuhan memang tak selalu mulus, kadang penuh liku dan sakit dalam menjalani kehidupan. Akhirnya karena sodara merasa kasian dengan saya, saya dibiayai untuk berkuliah. Awal saya merantau adalah setelah saya meluluskan SMA saya.

Saya tinggal di sebuah kost yang kecil dan sejuk, disanalah saya memulai perjalanan hidup perantauan saya. Dengan berjalan kaki saya seberangkat ke kampus, dan untuk menutupi biaya, saya mulai bekerja sebagai sales kartu kredit. Pagi hari saya harus siap siap dan berangkat ke kantor untuk absen, di siang dan malam harinya saya harus berkuliah, hal ini saya jalani sampai saya lulus kuliah, tepatnya pada Tahun 2014.

Saya bertekad bahwa saya harus cepat menyelesaikan kuliah saya, sehingga dapat bekerja dan bisa mandiri mencari uang. Waktu itu saya berpikir bahwa saya ingin banget menjadi orang yang bebas finansial. Saya bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan dan harapan hidup yang lebih baik.

Ternyata setelah saya berhasil menyelesaikan pendidikan saya, angan dan impian harus ditunda, tepat setelah saya lulus, ayah saya memutuskan untuk meninggalkan kami dan tidak peduli akan pendidikan adik adik saya. Tuhan memang selalu memberikan jalan keluar tepat pada waktuNya. Saya sempat tertekan dan kecewa karena saya merasa berat banget menjalani hidup dan selalu melihat ke kanan dan ke kiri. Sifat paling buruk manusia adalah selalu membanding bandingkan, karena dengan membandingkan, anda tidak akan merasa bersyukur dan puas. Dengan membandingkan kehidupan, anda tidak akan puas dan bersyukur dengan apa yang anda punya, karena anda hanya fokus pada apa yang anda tidak punyai. Sangatlah tidak baik hidup dalam pola pikir seperti itu.

Saat kami membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk menguliahkan adik saya, nominal dari kebutuhan itu tepat tersedia di rekening tabungan saya. Tak habis pikir, semua dapat terpenuhi dan akhirnya adik saya dapat melanjutkan kuliah. Hari demi hari, tahun demi tahun saya lalui, berbagai pengalaman serta kesempatan sudah saya rasakan. Sempat saya kehabisan uang, dan tidak bisa makan sehingga saya hanya makan dengan nasi dan krupuk kecap saja. Pernah juga saya harus hidup menggembel karena saya tidak punya uang untuk membayar kost. Saya tidur di warnet, kadang saya juga harus pegi ke mcd, rs, dan lain lain dengan tujuan untuk dapat tidur sejenak.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*